Pemimpin sebagai teladan dan panutan rakyat. Sosok pemimpin bukan hanya sebagai simbol semata, tetapi harus bisa memberikan contoh baik bagi para rakyat. Kasus korupsi dan narkoba yang terjadi pada beberapa mantan kepala daerah di Nusantara merupakan tamparan keras bagi rakyat Indonesia. Pemimpin yang digadang-gadang untuk menjadi panutan justru telah melukai kepercayaan rakyat. Jika kepala daerah melakukan pelanggaran hukum maka dikhawatirkan rakyat akan mengikutinya. Oleh karena itu, pemimpin ideal harus bisa memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari kepada rakyat. Tentu rakyat telah lama merindukan sosok pemimpin yang hidup sederhana dan memiliki kepedulian sosial.
-
Liburan Seru di Yogyakarta Paket Hemat
Siapa yang tidak ingin liburan hemat? Perjalanan dapat promo, penginapan juga dapat promo, ditambah lagi dapat oleh-oleh khas kekinian tanpa merogoh dompet. Simak ceritanya di sini.
-
Kawanua Emerald City - Kawasan Mandiri Masa Depan Manado
Kawanua Emerald City merupakan kawasan hunian dengan konsep kota mandiri yang disiapkan untuk masa depan kota Manado
-
Prospek Investasi Property Masa Kini
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
Review Desain Rumah Minimalis Cluster Crystal - Kawanua Emerald City
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
Cerita di Kota Manado
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Pemimpin Daerah dari Rakyat untuk Rakyat
Pemimpin sebagai teladan dan panutan rakyat. Sosok pemimpin bukan hanya sebagai simbol semata, tetapi harus bisa memberikan contoh baik bagi para rakyat. Kasus korupsi dan narkoba yang terjadi pada beberapa mantan kepala daerah di Nusantara merupakan tamparan keras bagi rakyat Indonesia. Pemimpin yang digadang-gadang untuk menjadi panutan justru telah melukai kepercayaan rakyat. Jika kepala daerah melakukan pelanggaran hukum maka dikhawatirkan rakyat akan mengikutinya. Oleh karena itu, pemimpin ideal harus bisa memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari kepada rakyat. Tentu rakyat telah lama merindukan sosok pemimpin yang hidup sederhana dan memiliki kepedulian sosial.
Gagah yang Lemah: Prinsip Finansial Sebagian Masyarakat Pinggiran
Produk gadget, kendaraan, fashion, dan properties merupakan produk unggulan yang bersain secara kompetitif untuk menarik para calon konsumen. Produsen produk tersebut tentu berlomba-lomba menciptakan inovasi dan kreasi sehingga konsumen akan tergiur untuk memiliki dan kecanduan untuk mengikuti produk terbarunya. Masyarakat pinggiran dengan kelas ekonomi menengah tentu akan menjadi sasaran tepat. Secara nyata dapat dilihat pada animo masyarakat untuk selalu memburu dan mengejar produk-produk unggulan untuk dapat dimiliki. Gaya hidup ini menjadikan sebuah prestige sendiri di kalangan mereka. Sebuah kepuasan dan status sosial yang akan melekat pada dirinya adalah tujuan utama mereka. Tidak lagi memandang fungsi utama dari barang yang diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan. Inilah gambaran prinsip finansial masyarakat pinggiran.
Bantuan sosial pemerintah berupa dana sosial untuk keluarga dan beasiswa untuk pelajar dianggarkan untuk membantu finansial masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Harapannya bntuan pemerintah sebagai bantuan dlam pemenuhan kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Tidak jarang semua orang tanpa terkecuali akan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan bantuan dana dari pemerintah. Berbagai upaya mereka lakukan, biasanya pemalsuan data atau menyembunyikan harta dan barang yang dimiliki. Kalau ada gratisan, sayang kalau dibiarkan berlalu begitu saja. Padahal, mereka selalu ingin mendapat prestige di kalangannya dan lingkunga tempat tinggalnya. Namun, sekarang rasa gengsi untuk hal itu sudah hilang, atau sudah mati. Dapat dilihat, para pelamar dana sosial atau pelamar beasiswa memiliki gadget dan fashion yang up to date. Sebuah ironi bagi kalangan masyarakat pinggiran.
Gagah yang lemah, merupakan istilah yang tepat untuk masyarakat pinggiran dengan prinsip finansial yang mereka terapkan dalam kehidupan. Selalu ingin up to date dengan produk-produk baru tetapi masih mengharapkan bantuan pemerintah. Pemberian bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran masih sering dijumpai. Jika pemerintah mengelak, yang sebut saja jumlahnya sedikit. Anggap saja pemerintah memang telah berusaha keras tetapi ujung-ujungnya kecolongan. Pemerintah mau disalahkan tentu sulit, jumlah pelamar bantuan dana dibandingkan dengan petugas verifikasi jelas lebih banyak pelamarnya. Semua butuh kesadaran dari tiap individu untuk melakukan kejujuran. Pemalsuan data berupa slip gaji tentu akan lebih mudah bagi para pengusaha atau pekerja swasta dibandingkan PNS.
Ada rasa puas dan bangga bagi mereka yang telah memalsukan data dengan hasil fresh money. Jerih payahnya tidak berat tetapi beruntung, bisa tambah koleksi barang up to date tanpa merogoh dompet. Bagi mereka yang sebenar-benarnya berhak menerima tetapi hasilnya nihil tentu akan kecewa besar. Harapan mendapat bantuan untuk pemenuhan kebutuhan hidup harus tertunda, atau perlu dikubur dalam-dalam. Bagi yang memiliki pemikiran positif maka akan tetap berjuang mempertahankan hidup dengan apa yang dimiliki dan diberikan oleh Sang Pencipta. Masyarakat pinggiran yang terlena menikmati bantuan dana pemerintah untuk bermewah-mewahan maka diharapkan jangan kaget jika ada kelompok pemalak, preman, perampok, begal, pemerkosa, dan jambret. Itu adalah sebagai luapan emosi kalangan yang terkhianati.
Entah sampai kapan kondisi sosial di masyarakat seperti ini akan terjadi. Jika masyarakat pinggiran masih bernafsu merampas hak-hak masyarakat ekonomi bawah maka angka kriminalitas akan tetap tumbuh. Keberadaan masyarakat ekonomi menengah bawah memang tidak berhubungan langsung dan memberi kontribusi bagi kita tetapi akibat ketidakpeduliaan masyarakat menengah atas akan memunculkan ancaman. Seyogyanya, menjadi masyarakat yang patuh dan tunduk dengan peraturan pemerintah yang ada. Jika tidak maka jangan heran jika kekacauan sosial akan selalu menghantui di manapun kita berada. Jadilah konsumen yang bijak terhadap kondisi pasar yang lagi panas akan promosi produk-produk baru. Bukalah dompetmu sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk membeli status sosial atau prestige belaka.
Info Lomba Menulis Cerpen Romance "Season for Love" Mazaya Publishing DL. 20 September 2016
Info Lomba Menulis Cerpen "SEMARAK INDONESIA MERDEKA (Dalam Rangka Kemerdekaan Indonesia)" DEADLINE 25 AGUSTUS 2016
- - Voucher penerbitan sebesar RP. 100.000 (khusus paket mandiri)
- - Gratis 1 buku terbit - E-sertifikat
- - Diskon 10% untuk setiap pembelian bukunya ·
- - Voucher penerbitan sebesar RP. 75.000 (khusus paket mandiri)
- - Gratis 1 buku terbit
- - E-sertifikat - Diskon 10% untuk setiap pembelian bukunya
Buku Antologi - Anak Kost VS Tanggal Tua #1
Rp40.000,- untuk Umum
Rp34.000,- untuk Penulis
(Infokan judul, jumlah, alamat)
Buku Antologi - Cinta Berbagi
Judul Buku: Cinta Berbagi
Penulis: Samudrawan Kertapati, dkk
Penerbit: Pena Indis
Editor: Nitha Ayesha
Desain: Fandy Said
Harga Umum: Rp.38.500 (belum termasuk Ongkir)
Harga Kontributor: Rp.35.000 (belum termasuk Ongkir)
PRE ORDER: 4 – 14 Agustus 2016
(Pesan minimal 2 eks dapat sertfikat cetak gratis)
(Pesan minimal 7 eks dapat sertifikat cetak dan bonus 1 eks buku)
Cara Pesan:
Ketik pesan dengan format: NAMA PEMESAN_ALAMAT LENGKAP + KODE POS_NO.HP_JUMLAH PESANAN
Kirim ke: Inbox FB Pena Indis atau sms ke No.Hp/WA: 082113883062
Camping di Pantai Perawan “Unforgettable Moment in The Hidden Paradise of Malang”
Keindahan pantai di sepanjang pesisir Malang Selatan memang menggoda perhatian untuk dikunjungi dan melepas penat kesibukan kuliah. Pantai Perawan yang terletak di Desa Kecamatan Sumber Manjing Wetan Kabupaten Malang menjadi pilihan untuk tempat liburan semester genap tahun 2016. Alasannya karena Pantai Perawan masih jarang pengunjung sehingga masih alami dan asri. Kami berangkat pada hari Sabtu, 30 April 2016, lebih awal dari jadwal UAS karena setelah UAS pasti kami disibukkan dengan urusan masing-masing, maklum mahasiswa semester akhir. Sekitar pukul 10.00 WIB kami berkumpul di Jl. Surabaya, selang satu jam kami ber-21 dengan sebelas motor memulai perjalanan meninggalkan Kota Malang yang semakin sesak engan gedung dan rumah.
Perjalanan terhenti ketika sampai Bululawang untuk menunaikan kewajiban Sholat Dzuhur. Kami pun melanjutkan perjalanan panjang dengan rute Turen . Petualangan dan perjuangan kami mulai ketika melewati jalan pegunungan. Di awal jalanan masih mulus beraspal yang penuh belokan dengan hamparan pemadangan hijau. Lambat laun jalanan mulai rusak parah dengan tanjakan dan turunan yang cukum ekstrem yang bersebelahan dengan jurang. Kami pun berhati-hati dalam mengendarai kuda besi. Lengkungan garis pantai terlihat dari kejauhan ketika sampai di jalan turunan menuju desa Sidoasri. Akhirnya rombongan tiba di desa Sidoasri sekitar pukul 14.00 WIB. Kami beristirahat melepas lelah perjalanan di kediaman nenek salah satu teman kami.
Setelah meminta izin ke perangkat desa setempat, kami langsung menuju lokasi Pantai Perawan. Sebagai mahasiswa yang memiliki etika tentu kami harus meminta izin sebelum bermalam di sana agar keamanan terjamin. Lokasi Pantai Perawan cukup jauh dari pemukiman penduduk dengan perjalanan melewati persawahan. Jalannya masih belum dibangun sehingga terdapat kubangan air dan lumpur di beberapa titik sehabis hujan. Keindahan pantai yang masih alami dan asri kini sudah di depan mata. Kami sudah tidak sabar untuk menikmati “keperawanan” dari Pantai Perawan.
Awalnya kami ingin mendirikan tenda di area yang berpasir pantai tetapi penjaga pantai menyarankan untuk di area tanah keras demi keamanan. Sore yang mendung tak menghalangi kami untuk menikmati keindahan pantai. Setelah mendirikan tenda, kami bermain dan berfoto di sekitar bibir pantai. Bentuk pantai diapit bukit yang hijau oleh rimbunnya pepohonan seperti pantai di dalam pulau tetapi dengan ukuran yang besar. Kemesraan buih air dan pasir pantai putih kecoklatan di setiap deburan ombak menemani kami sampai langit semakin hitam legam.
Setelah puas menikmati keindahan pantai di senja hari, kami kembali ke tenda. Ada yang memasak air untuk kopi, ada yang menunaikan kewajiban sholat Magrib, dan ada yang mengambil makan dari rumah nenek salah satu teman kami. Kami merasa beruntung karena kami tak perlu mamasak atau membawa bekal terlalu banyak untuk keperluan makan. Sekitar pukul 19.00 WIB kami makan malam bersama dengan menggelar tikar di dekat tenda dan ditemani deburan suara ombak.
Setelah makan bersama, kami memulai obrolan santai dengan bercanda dan bernyanyi bersama diiringi gitar. Angin malam mulai menyapa kami tetapi kehangatan di antara kami yang hampir 4 tahun mampu menandingi dinginnya angin malam. Bosan bernyanyi bersama, sebagian ada yang memilih untuk bermain kartu ala truth or challenge, ada juga yang memancing di cekungan bekas tambak milik warga, dan sebagian ada yang membuat api unggun di bibir pantai. Kami awalnya harus mengumpulkan sampah dan kayu yang terbawa ombak sampai ke bibir pantai. Ya kegiatan ini bisa menjadikan pantai lebih bersih. Sebanyak 6 titik pengumpulan sampah kami jadikan api unggun di bibir pantai. Malam itu area Pantai Perawan kami sulap jadi pesta api unggun sehingga dari kejauhan terlihat terang oleh nyala api. Kami pun tak lupa membakar singkong yang dibawa dari kebun nenek salah satu teman kami.
Malam yang semakin larut mengakibatkan kantuk mulai menyerang. Kami pun mulai kembali ke tenda untuk beristirahat. Kami berharap besok pagi bisa menikmati momen yang lebih seru. Ombak yang setia berdebur menemani kami ke alam mimpi. Pagi telah tiba tetapi sunrise tak kunjung kelihatan akibat sisa-sisa mendung tadi malam. Untung saja tadi malam tidak hujan meskipun suara petir sempat mengusik ketenangan istirahat kami. Bekal dan snack yang dibawa kami makan untuk sarapan sebelum mengawali aktivitas hari ini.
Suasana pagi itu seakan galau, mekipun langit sudah membiru terang tetapi matahari masih menyembunyikan diri di balik awan mendung. Kami pun mulai bermain di bibir pantai menjamahkan kaki pada pasir dan air laut. Kami menelusuri bibir pantai yang membentang dari barat ke timur. Di ujung barat pantai terlihat bangunan rumah tua dilengkapi pipa menuju laut. Sebagian teman ada yang mengumpulkan kerang laut yang tertimbun di pasir. Ada juga yang tak mau melewatkan waktu untuk selfie dan narsis. Sekitar pukul 08.00 matahari sudah menampakkan diri di singgasananya. Kami pun tetap melanjutkan menikmati kebersamaan di bibir pantai. Saat menelusuri pantai ke arah timur kami menemukan sungai air tawar yang jernih dan bersih. Awalnya hanya 5 anak yang mengetahui lalu hampir semua pergi ke sana untuk mandi menikmati kesegaran air dan melepas rasa lengket di badan. Andaikan semua sungai yang ada di perkotaan jernih dan bersih seperti ini.
Sang Surya semakin terik menyinari bumi. Kami pun mulai berkemas untuk kembali ke Kota Malang menjalani rutinitas. Langkah kaki terasa berat seakan tidak ingin mengakhiri cerita kebersamaan di Pantai Perawan. Biarlah kenangan ini sebagai unforgettable moment in the hidden paradise of Malang bagi kami sampai senja nanti. Kini kami telah ditunggu untuk segera menyelesaikan tugas akhir sebelum memakai toga di Graha Cakrawala (skripsi dan tugas perancangan he he he).









